
Capital Personal – Perdebatan value vs growth stocks kembali menguat di tengah perubahan suku bunga global, ketika investor menimbang ulang strategi portofolio jangka menengah dan panjang.
Investor memisahkan saham menjadi dua kelompok besar: value dan growth. Saham value biasanya diperdagangkan dengan valuasi relatif murah terhadap fundamental seperti laba, penjualan, atau nilai buku. Pasar sering menganggap saham-saham ini “tertinggal” sehingga menyisakan potensi kenaikan harga ketika persepsi berubah.
Di sisi lain, saham growth menonjol karena prospek pertumbuhan pendapatan dan laba yang tinggi. Perusahaan seperti ini umumnya beroperasi di sektor teknologi, kesehatan, atau konsumen yang inovatif. Mereka sering diperdagangkan dengan rasio harga terhadap laba (P/E) dan harga terhadap penjualan (P/S) yang jauh lebih tinggi dibandingkan saham value.
Perbedaan karakter ini menjadikan value vs growth stocks sebagai dua pendekatan utama dalam strategi investasi ekuitas. Investor yang fokus pada value mengejar margin of safety, sedangkan pemburu growth mengejar ekspansi bisnis yang agresif.
Pergerakan suku bunga menjadi faktor kunci yang memengaruhi performa kedua kelompok saham tersebut. Ketika suku bunga rendah, arus kas masa depan perusahaan growth terlihat lebih bernilai karena didiskontokan dengan tingkat yang kecil. Akibatnya, saham growth cenderung unggul.
Sebaliknya, saat bank sentral menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi, biaya modal meningkat. Arus kas masa depan menjadi kurang menarik, sehingga valuasi tinggi pada growth mulai dipertanyakan pasar. Di fase seperti ini, saham value yang sudah relatif murah sering mendapat perhatian baru dari investor.
Siklus dari suku bunga rendah ke tinggi dan sebaliknya membuat kinerja value vs growth stocks bergerak bergantian memimpin. Investor yang peka terhadap siklus ini dapat menyesuaikan bobot portofolio untuk mengurangi volatilitas.
Dalam beberapa tahun terakhir, saham growth khususnya di sektor teknologi sempat mendominasi indeks global. Lonjakan adopsi digital, komputasi awan, dan kecerdasan buatan mendorong optimisme terhadap perusahaan dengan potensi ekspansi tinggi.
Namun, periode inflasi yang meningkat dan pengetatan kebijakan moneter mengubah dinamika tersebut. Beberapa saham growth yang sebelumnya unggulan mengalami koreksi tajam ketika investor mulai memeriksa ulang valuasi ekstrem.
Sementara itu, sektor tradisional seperti keuangan, energi, dan industri—yang banyak diisi saham value—sering mendapatkan rotasi modal ketika pasar mencari kestabilan dan arus kas yang lebih dapat diprediksi. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai value vs growth stocks semakin penting bagi investor yang ingin tetap adaptif.
Baca Juga: Penjelasan komprehensif tentang strategi value investing modern
Alih-alih memilih salah satu kubu secara ekstrem, banyak manajer portofolio institusional menggabungkan kedua gaya dalam satu strategi. Pendekatan ini bertujuan menyeimbangkan potensi pertumbuhan dengan disiplin valuasi yang lebih ketat.
Investor ritel dapat menerapkan prinsip serupa dengan mengalokasikan sebagian dana ke saham atau reksa dana indeks bernuansa value, dan sebagian lainnya ke instrumen yang menargetkan growth. Komposisi proporsi bergantung pada profil risiko, horizon waktu, dan keyakinan terhadap kondisi makroekonomi ke depan.
Selain itu, pemilihan sektor juga berperan. Beberapa sektor teknologi sudah mulai menampilkan karakter value ketika harga turun dan profitabilitas menguat. Kondisi ini menunjukkan bahwa garis pemisah antara value vs growth stocks tidak selalu kaku dan dapat bergeser seiring perkembangan bisnis.
Meskipun terdengar menarik, setiap pendekatan membawa risiko spesifik. Saham value berpotensi menjadi “value trap” jika bisnis perusahaan melemah secara struktural sehingga harga murah justru mencerminkan penurunan kualitas fundamental.
Sementara itu, saham growth dapat tertekan hebat ketika ekspektasi pertumbuhan tidak tercapai atau sentimen pasar berbalik terhadap risiko. Karena itu, disiplin analisis keuangan, pemahaman model bisnis, dan evaluasi manajemen perusahaan tetap krusial untuk kedua gaya investasi.
Investor juga perlu menyadari bahwa rotasi antara value vs growth stocks tidak selalu dapat diprediksi dengan tepat waktu. Terlalu sering melakukan pergeseran gaya dapat meningkatkan biaya transaksi dan mengikis imbal hasil jangka panjang.
Pada akhirnya, pilihan antara value vs growth stocks harus menyesuaikan tujuan finansial, toleransi risiko, dan jangka waktu investasi masing-masing individu. Investor konservatif dengan fokus pada perlindungan modal lebih cenderung memilih bobot value yang lebih besar.
Di sisi lain, investor berusia muda dengan horizon investasi panjang dan kapasitas menanggung volatilitas lebih tinggi dapat memberikan porsi lebih besar pada saham growth. Namun, proporsi sebaiknya tetap terdiversifikasi agar portofolio tidak terlalu bergantung pada satu skenario ekonomi.
Bagi banyak orang, pendekatan seimbang melalui indeks atau reksa dana campuran menjadi jalan tengah yang efisien. Dengan memahami dinamika value vs growth stocks, investor memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menavigasi perubahan pasar sambil tetap fokus pada tujuan jangka panjang.